Pernyataan Pejabat Perlu Dievaluasi

3 Sep

Kapolres Didesak Bertanggung Jawab Atas PernyataannyaBOGOR, (Pikiran Rakyat).-
Sejumlah kalangan meminta Kapolres Bogor, AKBP Arief Ontowiryo, mempertanggungjawabkan sikap dan pernyataannya yang berubah-ubah, terkait kasus penembakan yang dilakukan salah seorang anggotanya terhadap Niasari (15), warga Desa Rangga Jaya, Kec. Bojong Gede, Kab. Bogor beberapa waktu lalu. Mereka juga mendesak agar Kapolres bertindak jujur dan tidak membela anggotanya yang bersalah dalam kasus penembakan tersebut.

“Seharusnya hal itu tidak perlu dilakukan oleh seorang Kapolres. Kalau memang anak buahnya bersalah, kenapa mesti takut untuk mengakui hal yang sebenarnya di hadapan publik,” ujar Darwin Saragih, salah seorang Anggota Komisi D DPRD Kabupaten Bogor yang dihubungi, Minggu (2/9).

Selain itu, Darwin mendesak agar Kapolres Bogor segera meminta maaf kepada masyarakat, khususnya kepada keluarga korban. Pasalnya pernyataan Kapolres yang menjelaskan kalau korban ditembak lantaran akan merampok motor milik pelaku sama sekali tidak benar.

“Apa yang dikatakan Kapolres itu jelas sangat melukai hati keluarga korban. Bayangkan, selain harus kehilangan Nia, mereka juga mendapat perlakuan yang tidak adil dan sangat menyakitkan dengan adanya pernyataan Kapolres itu. Coba kalau hal itu menimpa keluarga Kapolres, apa yang akan dia lakukan,” kata Darwin.

Ungkapan kekesalan dan kekecewaan terhadap sikap dan pernyataan Kapolres juga diungkapkan sebagian warga Kampung Citayam yang juga tetangga korban. Mereka menilai pernyataan Kapolres Bogor, AKBP Arief, yang sebelumnya sempat memberikan keterangan berdasarkan pengakuan tersangka bahwa korban terpaksa ditembak karena akan merampas motor tersangka, adalah pernyataan yang mengada-ada dan penuh kebohongan serta rekayasa.

Oleh karena itu, warga mendesak agar Polres Bogor secepatnya mengusut hingga tuntas kasus penembakan terhadap salah seorang warga Citayem. Apabila ini tidak dilakukan dan penyidikan masih dipenuhi dengan upaya rekayasa, sebaiknya Kapolres Bogor dicopot dari jabatannya.

“Jangan ada lagi rekayasa dan kebohongan dalam pengusutan kasus penembakan terhadap warga kami, selain itu kami minta pelaku dihukum seberat-beratnya bahkan kalau perlu pelaku dihukum mati,” ujar Iik salah seorang tokoh pemuda Citayem.

Kapolres akui gagal

Secara terpisah dalam jumpa pers yang dilakukan, Jumat (28/8), Kapolres Bogor AKPB Arief Ontowirnyo sendiri mengakui, bahwa ia gagal dalam mengawasi anak buahnya. “Saya berjanji, ke depan, akan lebih intensif lagi mengawasi anggota saya termasuk melakukan tes ulang bagi anggota yang akan memegang senjata api,” ujarnya menegaskan.

Kapolres juga membenarkan, adanya upaya pelecehan seks yang dilakukan oleh tersangka Bripka Sw terhadap korban Niasari.

“Kalau saya dianggap telah memberikan keterangan palsu dan selalu berubah-ubah ke publik itu tidak benar. Sebab saya tegaskan, saat itu saya memberikan keterangan kepada wartawan berdasarkan pengakuan awal dari tersangka. Yang namanya penyelidikan awal itu bisa saja berubah,” ujarnya berkilah.

Kapolres juga menerangkan, dari pengakuan korban kepada penyidik, saat akan pulang dari Mapolres Bogor, Bripka Sw mengaku dicegat Dede dan Nia yang sedang kehabisan bensin di lapangan Kantor Pemkab Bogor. Dede minta tolong diantarkan ke penjual bensin eceran, namun sebelumnya menitipkan Nia ke Sw, termasuk motornya yang diparkir di depan gerbang kiri Mapolres Bogor .

Tersangka mengaku, tertarik dengan kecantikan dan kemolekan tubuh Nia sehingga dia mencari-cari alasan untuk mendekati dan membawa korban. Di saat tersangka berhasil merayu dan membawa korban sampai di dekat kantor Desa Tengah, Cibinong yang hanya berjarak 500 meter dari Mapolres Bogor, tersangka berniat melakukan aksinya. Korban berontak dan mengancam akan melaporkan kejadian tersebut kepada pimpinan polisi.

“Menerima ancaman seperti itu tersangka panik kemudian mencabut pistolnya dan menembak korban hingga tewas, mayatnya dibuang di semak tak jauh dari lokasi,” papar Kapolres.

Oleh karena itu, kata Kapolres, setelah terbukti bersalah dan divonis dalam pengadilan umum sesuai dengan pasal 338 KUHP dengan hukuman maksimal 15 tahun, tersangka juga harus menjalani pengadilan kode etik profesi. (A-104)***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: