Lagi Tentang Amplop

7 Apr

Mas Zed,
Lagi soal amplop:

Sikap PJI terhadap amplop dari nara sumber:

1. PJI tetap tidak bisa mentolelir wartawan yang menerima amplop (dalam arti luas) dari pihak-pihak yang berkitan dengan pekerjaanya sebagai wartawan.
2. Namun dalam implementasi atas sikap di atas, dilakukan dengan advokasi ke bijakan pemerintah serta pendampingan kepada wartawan, karena kondisi lingkungan wartawan saat ini yang dalam keadaan luar biasa (tidak ideal) dan memerlukan perbaikan.
3. Pada prinsipnya independensi, profesionalisme dan membangun martabat wartawan menjadi prinsip yang mendasari sikap di atas.

Pernyataan ini merupakan tanggapan atas pernyataan dan artikel kawan Zed Abidien di Surabaya dan tanggapan kawan Rudi Rosdi
Rudi Rosdo wrote :
Trims atas artikelnya.
Tapi, kalau pucuk pimpinan media (mapan/tidak mapan) yang mengatur berita dan bernegosiasi dengan sumber berita, lalu disebut apa ya?
Selain itu, kalau bagian marketing di media itu yang berkuasa atas substansi berita, istilah yang tepat apa ya?
Salam kompak,
Rudi.
Zed Abidien wrote:
Wartawan tetap salah jika menerima amplop (apalagi jika organisasi dan
tempatnya bekerja melarang menerima amplop). Kalau wartawan masih mau
menerima amplop dengan alasan hidupnya miskin atau perusahaannya
kurang memberi gaji yang layak sebaiknya dia keluar dari
perusahaannnya atau tetap bertahan dengan segala resikonya (berjuang
mendapatkan upah yang layak).
Ada cara (jika bekerja di perusahaan kecil) yang lebih baik untuk
menghindari amplop, yaitu bekerja separoh waktu/freelance, dengan
begitu dia bisa menulis di media lain (Anton Muhajir, dari Bali
membuktikan bisa eksis dengan sebagai penulis freelance) atau misalnya
membuka usaha di rumah.
Amplop, menurut saya adalah suap. Dalam hukum pidana positif, pemberi
suap dan penerima suap bisa dikenakan pidana. Mengapa wartawan
dilarang menerim, amplop, ya karena watak pekerjaan wartawan harus
begitu (independen, sebagai kontrol sosial dlsb). Dulu ada kawan saya
wartawan yang bilang begini : “Saya tetap menerima amplop, tapi tetap
saya bisa inpenden” katanya. Tapi ini hanya omong kosong, dalih saja.
Tak ada pemberian yang tanpa maksud, dan tidak mungkin wartawan yang
menerima pemberian uang/barang, bisa bersikap netral.

Satu Tanggapan to “Lagi Tentang Amplop”

  1. Gede H. Cahyana April 8, 2007 pada 6:39 am #

    Mas, saya pernah adakan kegiatan dan diliput oleh sebuah media, baik koran maupun televisi. Saya sempat diwawancarai dan dengan semangat saya ladeni. Habis waktu saya sekitar 7 menit. Kebetulan waktu itu saya sedang ditunggu yang lain sehingga tidak sempat berbincang lebih jauh dengan sang wartawan.

    Setelah sekian hari berselang, ternyata kegiatan saya itu tidak dimuat di korannya. Kawan bilang, waktu itu saya tidak memberikan amplop kepada wartawan itu. Kalau diberi, berapa saja, boleh jadi dimuatnya.

    Salam

    Gede H. Cahyana
    http://gedehace.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: