Mendongkrak IPM di Ladang ‘Umar Bakri’

6 Apr

Subang – Indek Pembangunan Manusia (IPM) menjadi acuan tolok ukur pembangunan. Artinya kualitas manusia menjadi sebuah ukuran sentral pembangunan yang dilakukan. Tak kurang dari Rp. 40 milyar dikucurkan hanya untuk satu program di bidang IPM, dalam dua tahun berturut-turut. Dari tiga pilar itu, pendidikan nampaknya menjadi salah satu bidang ungkit peningkatan IPM dismaping bidang kesehatan dan ekonomi kerakyatan.

Lalu sejauh mana bidang yang selama ini dianggap sebagai ladang para pendidik yang dikenal sebagai para pahlawan tanpa tanda jasa ini, atau menurut terminologi Iwan Fals adalah Umar Bakri, yang menggambarkan manusia luhur yang dengan tulus mengabdi untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia di masa kini dan mendatang.

Ketua Dewan Pendidikan Ahmad Yunus melihat masalah ini tidak secara hitam putih, menurutnya kondisi lingkungan pendidikan saat ini begitu kompleks, sehingga tidak bisa lagi kita hanya melihatnya sebagai kumpulan guru yang tanpa pamrih menjadi pribadi-pribadi yang penuh pengorbanan dalam arti seperti banyangan orang tanpa kebutuhan dan kepentingan pribadi pribadi atau kelompok yang menyertainya.

“Rasanya tidak adil jika kita menempatkan tenaga pendidik sebagai pribadi yang harus mengorbankan diri dan keluarganya untuk mencerdaskan bangsa sementara mereka justeru dituntut untuk memnuhi kebutuhan ekonomi keluarga dan biaya pendidikan anaknya sendiri,”ujar Yunus.

Sehingga menurut Yunus semuanya harus ditempatkan secara profesional, di mana yang harus dilakukan adalan menkaji sejauh mana anggaran pendidikan dapat menjadi pendorong peningkatan kualitas sumebr daya manusia terutama generasi muda secara optimal dan efektif. Sehingga kemudian menurut Yunus pemerintah harus dapat secara efektif merencanakan, melaksanakan dan menevaluasi program dan proyek pembangunan pendidikan, termasuk untuk peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik.

Dari sisi pemerintah, kepala Dinas Pendidikan Makmur Sutisna sepakat dengan pernyataan Yunus, namun menurut makmur masalahnya pembangunan pendidikan adalah pembangunan organik, yang sangat berbeda dengan pembangunan fisik. Artinya menurut Makmur masalah pendidikan bukan hanya menyangkut bagaimana membangun ruang kelas baru atau sarana prasarana pendidikan, karena inti dari pembangunan pendidikan, justeru adalah masalah manusia yang melaksanakanya.

Sehingga dalam solusinyapun tidak mekansitis, misalnya Makmur menyebutkan bahwa angka buta huruf pada dua tahun lalu sebesar 139.000 orang atau diatas 10 prosen dari jumlah penduduk, sementara usia mereka antara 15 sampai 45 tahun atau bukan usia wajib belajar. Tentu solusi masalah ini tidak bisa dengan membangun sekolah dan mengangkat tenaga pengajar, melainkan dengan memotivasi masyarakt untuk serara madiri memberantas buta kasara.

“Untuk itu kami menggulirkan program sinkronisasi antara Posyandu, yang telah tersebar di desa desa dengan membentuk Pos PAUD dan sentra pendidikan masyarakat melalui PKBM di masyarakat,”jelas Makmur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: